Total Tayangan Laman

Jumat, 19 Oktober 2012

MAKALAH KERUSAKAN PERKERASAN JALAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Jalan merupakan prasarana yang sangat menunjang bagi kebutuhan hidupmasyarakat,kerusakan jalan dapat berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi terutama padasarana transportasi darat. Dampak pada konstruksi jalan yaitu perubahan bentuk lapisan permukaan jalan berupa lubang (potholes), bergelombang (rutting), retak-retak dan pelepasan butiran (ravelling) serta gerusan tepi yang menyebabkan kinerja jalan menjadi menurun. Komperhensifitas perencanaan prasarana jalan di suatu wilayah mulai dari tahapan prasurvey, perencanaan dan perancangan teknis, pelaksanaan pembangunan fisiknya hingga pemeliharaan harus integral dan tidak terpisahkan sesuai kebutuhan saat ini dan prediksi umur pelayanannya di masa mendatang agar tetap terjaga ketahanan fungsionalnya.
Perkerasan jalan merupakan lapisan perkerasan yang terletak diantara lapisan tanah dasar dan roda kendaraan yang berfungsi memberikan pelayanan kepada sarana transportasi dimanadiharapkan selama masa pelayanan tidak terjadi kerusakan yang berarti. Maka dari itu sudahkewajiban kita untuk mengetahui mulai dari penyebab kerusakan dan cara pemeliharaan jalan tersebut. Agar tercipta jalan yang aman,nyaman dan memberikan manfaat yang signifikan bagi kesinambungan dan keberlangsungan hidup masyarakat luas dan menjadi salah satu factor menjadikannya peningkatan kehidupan masyarakat dari beberapa aspek – aspek kehidupan.
Jika kita kaji secara teori dan realita yang sudah berjalan selama ini, dalam pembangunan jalan ada banyak hal yang harus diperhatikan lebih mendetail dan teliti baik itu dari perencanaan jalan itu sendiri maupun pelaksanaan tentunya. Kita sebagai pengguna jalan pastinya menginginkan jalan yang kita pakai itu aman, nyaman, bersih dll. Maka dari itu kerusakan yang terjadi dijalan tersebut harus ditanggulangi dan diperbaiki dengan sungguh-sungguh.

1.2.Rumusan masalah
Dalam penulisan kali ini kami rumuskan tiga permasalahan penting
1.      Apa sajakah jenis-jenis kerusakan yang terjadi pada jenis-jenis perkerasan jalan
2.      Apa sajakah penyebab dari masing-masing kerusakan jalan tersebut?
3.      Bagaimanakah alternatif penanganan dan pemeliharaan kerusakan jalan yang terjadipada perkerasan jalan
1.3. Tujuan Dan Manfaat
1.    Untuk menjelaskan jenis-jenis kerusakan jalan yang terjadi
2.    Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis
3.    Untuk menambah kreatifitas dan pengembangan diri Mahasiswa
4.    Untuk memperoleh nilai Tugas mata kuliah Perkerasan Jalan


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Perkerasan Jalan
Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan pengikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai adalah batuan pecah atau batu belah ataupun bahan lainnya. Bahan ikat ang dipakai adalah aspal, semen ataupun tanah liat. Apapun jenis perkerasan lalu lintas, harus dapat memfasilitasi sejumlah pergerakan lalu lintas, apakah berupa jasa angkutan lalu lintas, berupa jasa angkutan manusia, atau berupa jasa angkutan barang berupa seluruh komoditas yang diijinkan untuk berlalu lalang disitu. Dengan beragam jenis kendaraan dengan angkutan barangnya, akan memberikan variasi beban ringan, sedang sampai berat. Jenis kendaraan penumpang akan memberikan pula sejumlah variasi.Dan hal itu harus didukung oleh perkerasan jalan, daya dukung perkerasan jalan raya ini akan menentukan kelas jalan yang bersangkutan, misalnya jalan kelas 1 akan menerima beban besar dibanding jalan kelas 2. Maka dilihat dari mutu perkerasan jalan sudah jelas berbeda. Persyaratan umum dari suatu jalan adalah dapatnya menyediakan lapisan permukaan yang selalu rata dan kuat, serta menjamin keamanan yang tinggi untuk masa hidup yang cukup lama, dan yang memerlukan pemeliharaan yang sekecil-kecilnya dalam berbagai cuaca. Tingkatan sampai dimana kita akan memenuhi persyaratan tersebut tergantung dari imbangan antara tingkat kebutuhan lalu lintas, keadaan tanah serta iklim yang bersangkutan. Sebagaimana telah dipahami bahwa yang dimaksud dengan perkerasan adalah lapisan atas dari badan jalan yang dibuat dari bahan-bahan khusus yang bersifat baik/konstruktif dari badan jalannya sendiri. Berdasarkan bahan pengikat yang menyusunnya, konstruksi perkerasan jalan dibedakan atas beberapa jenis antara lain:
a.       Konstruksi perkerasan lentur
(Flexible pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan aspal sebagi bahan pengikat di mana lapisan-lapisan perkerasannya bersifat memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar.
b.      Konstruksi perkerasan kaku
(Rigid pavement), yaitu perkerasan yang menggunakan semen (Portland Cement) sebagai bahan pengikat dimana pelat beton dengan atau tanpa tulangandiletakkan di atas tanah dasar dengan atau tanpa lapis pondasi bawah sehingga beban lalulintas sebagian besar dipikul oleh pelat beton.
c.       Konstruksi perkerasan komposit
(Composite pavement), yaitu perkerasan kaku yangdikombinasikan dengan perkerasan lentur dapat berupa perkerasan lentur di atas perkerasan kaku, atau perkerasan kaku di atas perkerasan lentur.

2.2.  Jenis-jenis perkerasan jalan
Pada umumnya, perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang tersusundari bawah ke atas,sebagai berikut :
• Lapisan tanah dasar (sub grade)
• Lapisan pondasi bawah (subbase course)
• Lapisan pondasi atas (base course)
• Lapisan permukaan / penutup (surface course)
http://htmlimg4.scribdassets.com/rwgx0suww1lahrh/images/4-e601c57772.jpg
 Gambar 1. Lapisan perkerasan jalan lenturTerdapat beberapa jenis / tipe perkerasan terdiri :a. Flexible pavement (perkerasan lentur).b. Rigid pavement (perkerasan kaku).c. Composite pavement (gabungan rigid dan flexible pavement).


2.2.1        Konstruksi Perkerasan Jalan Lentur (Flexible pavement)
Jenis dan fungsi lapisan perkerasan
Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima beban lalu-lintas dan menyebarkannya kelapisan di bawahnya terus ke tanah dasar
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Lapisan tanah dasar adalah lapisan tanah yang berfungsi sebagai tempat perletakan lapisperkerasan dan mendukung konstruksi perkerasan jalan diatasnya. Menurut Spesifikasi, tanahdasar adalah lapisan paling atas dari timbunan badan jalan setebal 30 cm, yang mempunyai persyaratan tertentu sesuai fungsinya, yaitu yang berkenaan dengan kepadatan dan dayadukungnya (CBR)
Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, atau tanah urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi dan lain lain. Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :
         Lapisan tanah dasar, tanah galian.
         Lapisan tanah dasar, tanah urugan.
         Lapisan tanah dasar, tanah asli.
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan dayadukung tanah dasar.Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut :
         Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas.
         Sifat mengembang dan menyusutnya tanah akibat perubahan kadar air.
         Daya dukung tanah yang tidak merata akibat adanya perbedaan sifat-sifat tanah pada lokasiyang berdekatan atau akibat kesalahan pelaksanaan misalnya kepadatan yang kurang baik.
Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan dibawah lapis pondasi atas.Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
         Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
         Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
         Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
         Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya dayadukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
         Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan
Lapisan pondasi atas (base course)
Lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah danlapis permukaan.Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
         Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban kelapisan di bawahnya.
         Bantalan terhadap lapisan permukaan.
Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahanbeban-beban roda.Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain,kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.
Lapisan Permukaan (Surface Course)
Lapisan permukaan adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan.Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
         Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
         Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).
         Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
         Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan dibawahnya.Apabila dperlukan, dapat juga dipasang suatu lapis penutup / lapis aus (wearing course) di ataslapis permukaan tersebut. Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan untuk mencegah masuknya air dan untuk memberikankekesatan (skid resistance) permukaan jalan. Apis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu linta
2.2.2.       Konstruksi Perkerasan Jalan Kaku (Rigid pavement)
Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat(slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atastanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasikarena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapispermukaan. Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akanmendistribusikan beban ke bidang tanah dasra yang cukup luas sehingga bagian terbesar darikapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri
Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari teballapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan. Karena yang paling penting adalahmengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban, maka faktor yang paling diperhatikandalam perencanaan tebal perkerasan beton semen adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanyaberagam kekuatan dari tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh kecil terhadapkapasitas struktural perkerasannya.Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa pertimbangan, yaituantara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainase, kendaliterhadap kembang-susut yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja(working platform) untuk pekerjaan konstruksi. Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasibawah adalah :
·         Menyediakan lapisan yang seragam stabil dan permanen
·         Menaikan harga modulus reaksi tanah dasar menjadi modulus reaksi gabungan
·         Mengurangi kemungkinan terjadinya retak–retak pada plat beton
·         Menyediakan lantai kerja bagi alat –alat berat selama masa kostruksi

Menghindari terjadinya pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air padadaerah sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan atau gerakanvertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas terakumulasi di bawahpelat. Pemilihan penggunaan jenis perkerasan kaku dibandingkan dengan perkerasan lenturyang sudah lama dikenal dan lebih sering digunakan, dilakukan berdasarkan keuntungan dankerugiannya.
Pada awal mula rekayasa jalan raya, plat perkerasan kaku dibangun langsung di atas tanahdasar tanpa memperhatikan sama sekali jenis tanah dasar dan kondisi drainasenya. Pada umumnya dibangun plat beton setebal 6–7 inch. Dengan bertambahnya beban lalu-lintas, khususnya setelah Perang Dunia ke II, mulai disadari bahwa jenis tanah dasar berperan pentingterhadap unjuk kerja perkerasan, terutama sangat pengaruh terhadap terjadinya pumping padaperkerasan.
Oleh karena itu, untuk selanjutnya usaha-usaha untuk mengatasi pumping sangatpenting untuk diperhitungkan dalam perencanaan.Pada periode sebelumnya, tidak biasa membuat pelat beton dengan penebalan di bagian ujung/ pinggir untuk mengatasi kondisi tegangan struktural yang sangat tinggi akibat beban truk yangsering lewat di bagian pinggir perkerasan. Kemudian setelah efek pumping sering terjadi pada kebanyakan jalan raya dan jalan bebas hambatan, banyak dibangun konstruksi pekerasan kaku yang lebih tebal yaitu antara 9 –10 inch. Guna mempelajari hubungan antara beban lalu-lintas dan perkerasan kaku, pada tahun 1949 di Maryland USA telah dibangun Test Roads atau JalanUji dengan arahan dari Highway Research Board, yaitu untuk mempelajari dan mencarihubungan antara beragam beban sumbu kendaraan terhadap unjuk kerja perkerasan kaku. Perkerasan beton pada jalan uji dibangun setebal potongan melintang 9 – 7 –9 inch, jarak antara siar susut 40 kaki, sedangkan jarak antara siar muai 120 kaki. Untuk sambungan memanjang digunakan dowel berdiameter 3/4 inch dan berjarak 15 inch di bagian tengah. Perkerasan beton uji ini diperkuat dengan wire mesh. Tujuan dari program jalan uji ini adalahuntuk mengetahui efek pembebanan relatif dan konfigurasi tegangan pada perkerasan kaku.Beban yang digunakan adalah 18.000 lbs dan 22.400 pounds untuk sumbu tunggal dan 32.000serta 44.000 pounds pada sumbu ganda.
Hasil yang paling penting dari program uji ini adalah bahwa perkembangan retak pada pelatbeton adalah karena terjadinya gejala pumping. Tegangan dan lendutan yang diukur pada jalan uji adalah akibat adanya pumping. Selain itu dikenal juga AASHO Road Test yang dibangun di Ottawa, Illinois pada tahun 1950. Salah satu hasil yang paling penting dari penelitian pada jalanuji AASHO ini adalah mengenai indeks pelayanan. Penemuan yang paling signifikan adalah adanya hubungan antara perubahan repetisi beban terhadap perubahan tingkat pelayanan jalan. Pada jalan uji AASHO, tingkat pelayanan akhir diasumsikan dengan angka 1,5 (tergantung juga kinerja perkerasan yang diharapkan), sedangkan tingkat pelayanan awal selalu kurang dan5,0.Berdasarkan adanya sambungan dan tulangan plat beton perkerasan kaku, perkerasanbeton semen dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis sebagai berikut :
·         Perkerasan beton semen biasa dengan sambungan tanpa tulangan untuk   kendali retak.
·         Perkerasan beton semen biasa dengan sambungan dengan tulangan plat untuk kendaliretak. Untuk kendali retak digunakan wire mesh diantara siar dan penggunaannyaindependen terhadap adanya tulangan dowel.
·         Perkerasan beton bertulang menerus (tanpa sambungan). Tulangan beton terdiri daribaja tulangan dengan prosentasi besi yang relatif cukup banyak (0,02 % dari luaspenampang beton).Pada saat ini, jenis perkerasan beton semen yang populer dan banyak digunakan di negara-negara maju adalah jenis perkerasan beton bertulang menerus.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari uraian singkat diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa tanpa pemeliharaan dan perbaikan jalan secara memadai, baik rutin maupun berkala, akan dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah pada jalan, sehingga jalan akan lebih cepat kehilangan fungsinya baik perkerasan jalan lentur maupun perkerasan jalan. Apabila perkerasan jalan dipelihara dengan baik dan tetap dalam kondisi yang baik, maka kedua jenis perkerasan jalan tersebutakan mempunyai umur lebih lama dari. Tetapi sekali jalan itu mulai rusak dan dibiarkan begitu saja tanpa perbaikan , maka kerusakan yang lebih parah akan berlangsung sangat cepat.
Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan pemeliharaan yang bersifat pencegahanseperti menutup sambungan atau retak-retak dan memperbaiki kerusakan-kerusakan, yangtimbul, dan menemukan penyebab-penyebabnya dengan melakukan pemeriksaan (inspeksi)secara rutin. Adapun penyebab-penyebab kerusakan perkerasan jalan bias di simpulkan pulasebagai berikut :
·         Karena pengaruh bahan perkerasan jalan yang tidak memenuhi spesifikasi yangseharusnya digunakan saat melakukan pekerjaan konstruksi jalan
·         Jalan mengalami kelebihan beban volume lalu lintas yang berulang-ulang
·         Sistem drainase yang kurang baik
·         Keadaan topografi dan faktor alam seperti cuaca yang buruk
·         Kurangnya kesadaran pemerintah daerah dna masyarakat untuk melakukan perawatan jalan.
4.2. Saran
a.       Untuk meminimalisir masalah kerusakan jalan yang terjadi, maka rancangan pemeliharaannya perlu dilakukan survey yang lebih akurat dengan melibatkan sejumlah instansi terkait.
b.      Agar kerusakan yang terjadi pada ruas jalan tidak menjadi lebih parah, maka perlu segera dilakukan tindakan perbaikan pada bagian-bagian yang rusak, sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang lebih parah.
c.       Pekerjaan jalan harus menggunakan spesifikasi yang ditetapkan.
d.      Perlunya pengawasan yang objektif tanpa adanya KKN oleh dinas atau instansi terkait agar kualitas jalan menjadi lebih bermutu.





DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar